Dapatkan Kedalaman Makna Kehidupan
WA 081311649594

Kalau Mercusuar Tidak Lagi Menunjukkan Cahaya, Ke Mana Kita Mencari Panduan?

Ada hari-hari ketika langit tampak terlalu luas dan laut terlalu dalam. Kita berdiri di tepi dermaga kehidupan, bertanya-tanya ke mana arah yang benar. Di kejauhan, mercusuar yang dulu gagah berdiri kini meredup, atau mungkin padam sama sekali. Cahaya yang dulu membelah kegelapan kini tak ada lagi. Dan kita pun mulai berjalan dengan langkah ragu, bertanya-tanya: ke mana aku harus melangkah?

Setiap orang, dalam hidupnya, punya mercusuar. Ia bisa berupa orang tua, guru, pasangan, atau prinsip yang selama ini dipegang teguh. Tapi waktu menguji segalanya. Ada kalanya mereka yang kita andalkan pun goyah, hilang, atau tak lagi menjadi sumber terang seperti dulu. Seperti minum teh yang terlalu lama dibiarkan hingga dingin, rasanya berubah, kehangatannya hilang.

Aku pernah berada di titik itu—saat panduan hidup yang biasa kuikuti tiba-tiba tak lagi membimbing. Ketika suara yang biasanya menenangkan malah mengaburkan. Ketika nasihat berubah jadi kebingungan. Dan yang lebih menyakitkan, ketika hati sendiri pun tidak tahu harus percaya pada siapa.

Tapi bukankah hidup memang dirancang untuk membuat kita tidak terlalu lama bersandar pada sesuatu yang fana? Bukankah kehilangan itu kadang cara paling lembut untuk mengingatkan bahwa satu-satunya cahaya yang tak pernah padam adalah yang datang dari Dia?

*"Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."*

Dalam hening malam yang paling gelap, ketika tak ada satu pun arah yang tampak, seringkali suara hati menjadi lebih jernih. Seperti ketika kita berbaring di kasur tua yang sudah agak keras, tapi tubuh tetap bisa tertidur karena kelelahan—hati yang lelah juga akan mencari tempat bersandar yang sejati. Dan saat itulah, cahaya dari dalam diri mulai bersinar. Bukan dari ego, tapi dari kesadaran bahwa kita selalu bisa kembali.

*"Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati."*

Mungkin inilah saatnya belajar melihat cahaya yang tidak menyilaukan mata, tapi menenangkan jiwa. Cahaya yang tidak selalu terang benderang, tapi cukup untuk menunjukkan satu langkah ke depan. Dan satu langkah itu, jika diambil dengan yakin, akan membawa kita lebih dekat ke arah yang benar.

*"Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman."*

Jika mercusuar di luar sana padam, jangan panik. Kita masih punya kompas di dalam dada. Cahaya itu masih ada, meski tak selalu terlihat dari luar. Ia hidup dalam doa yang tulus, dalam sabar yang tidak berisik, dalam sujud yang basah oleh air mata.

Mungkin kita tidak akan pernah benar-benar bebas dari kebingungan. Tapi kita bisa tetap tenang di tengahnya. Karena arah sejati bukan selalu tentang tahu ke mana harus pergi, tapi tentang tahu kepada siapa kita berjalan.

Dan selama masih ada keyakinan, masih ada harapan. Maka jangan berhenti melangkah. Meski perlahan. Meski tertatih. Karena kadang, justru dalam kegelapan, cahaya Allah paling terang terasa.
WhatsApp Bagikan via WhatsApp
📚 Artikel Terbaru: