Kadang, kita duduk di pengajian, mendengar kisah-kisah yang jauh—tentang padang pasir, perang berabad lalu, atau tokoh yang namanya sulit kita eja. Hati kita tak salah bila kagum. Namun, entah mengapa, di sela takzim itu, muncul rasa hampa: mengapa kisah orang-orang mulia yang lahir di tanah kita sendiri jarang sekali diceritakan? Mengapa pahlawan yang pernah memanggul beban di kampung ini, meneteskan keringat di tanah yang kita pijak, jarang diangkat di mimbar agama?
Seperti kita menikmati teh impor dengan takzim, tapi lupa bahwa di lereng gunung sebelah sana, ada petani yang menanam daun teh dengan cinta dan sabar. Kita memuji rasa, tapi tak pernah menoleh pada tangan yang menumbuhkannya.
Mungkin, karena kita mengira kemuliaan hanya lahir di tempat yang jauh. Kita lupa bahwa bumi ini satu, dan Tuhan menurunkan kemuliaan di mana saja Dia kehendaki. “Sungguh, Kami telah memuliakan anak Adam,” begitu firman-Nya. Tidak dibatasi bangsa, warna kulit, atau bahasa. Tapi hati manusia kadang lebih mudah jatuh cinta pada cahaya dari kejauhan, walau cahaya di dekatnya sama terangnya.
Di mimbar, kita sering mendengar kisah sahabat yang gagah di medan perang, ulama yang tekun di sudut masjid, pemimpin yang adil memerintah negerinya. Tapi mengapa jarang disebut guru kampung yang puluhan tahun mengajar mengaji tanpa meminta bayaran? Atau ibu penjual sayur yang diam-diam membiayai anak yatim sekolah? Padahal Nabi pernah berkata, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Barangkali kita mengira pahlawan harus berpakaian seperti yang ada di buku sejarah, atau hidup di abad tertentu. Padahal pahlawan bisa jadi orang yang kita temui di warung kopi—yang diam-diam membantu tetangga, yang memaafkan meski hatinya pernah dilukai. Mereka bukan tokoh monumental, tapi jejaknya nyata di tanah tempat kita berdiri.
Ketika kita terlalu sering menoleh ke luar, kita kehilangan akar. Padahal iman itu seperti pohon: ia butuh tanah yang dikenali akarnya, butuh air yang mengalir dari sumber terdekat. Mengangkat kisah pahlawan lokal bukan berarti menutup mata dari teladan luar, tapi menjaga agar hati kita punya cermin yang dekat. Karena teladan yang dekat lebih mudah diikuti, seperti aroma nasi hangat yang mengundang kita pulang.
Ada pepatah yang mengatakan, “Siapa yang tak mengenang jasa, tak akan menanam jasa.” Jika mimbar kita hanya menyebut yang jauh, kita sedang menyiapkan generasi yang menganggap kemuliaan hanya ada di luar lingkar hidupnya. Itu seperti anak yang hanya memuji masakan restoran mewah, tapi tak pernah menghargai masakan ibunya sendiri.
Di akhir, mungkin kita perlu menata ulang pandangan: bahwa pahlawan itu bukan soal panggung, tapi soal pengorbanan. Bahwa kemuliaan bisa lahir di rumah papan maupun istana. Dan bahwa agama tidak hanya memanggil kita untuk menengadah, tapi juga untuk menunduk—menemukan cahaya yang tumbuh di tanah tempat kita berdiri.
Karena suatu saat, kita akan ditanya bukan hanya siapa yang kita kagumi, tapi siapa yang kita tolong. Dan ketika tiba hari itu, mungkin kita akan bersyukur pernah menaruh hormat pada pahlawan-pahlawan yang diam, yang mungkin kini sedang duduk di teras rumahnya, menyeruput teh, tanpa pernah tahu bahwa dirinya adalah teladan.