Merdeka tanpa dijajah lagi. Bukan hanya soal politik. Bukan hanya soal senjata.
Ini tentang jiwa. Tentang hati yang tidak tunduk. Tentang bangsa yang tidak lagi rela dipaksa.
Dulu kita pernah dijajah. Dipaksa kerja. Dipaksa tunduk. Tapi jiwa tetap merdeka. Karena ada keyakinan. Bahwa kebenaran itu selalu menang.
“Janganlah kamu merasa hina dan jangan bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” Kutipan itu menancap dalam. Merdeka itu bukan hadiah. Merdeka itu lahir dari iman yang teguh.
Hari ini kita tidak lagi dijajah fisik. Tapi masih ada penjajahan. Penjajahan pikiran. Penjajahan ekonomi. Penjajahan gaya hidup. Kalau hati kita lemah, penjajahan itu akan masuk. Tanpa terasa kita dijajah lagi.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” Ucapan itu bukan pujian kosong. Itu amanat. Bahwa kita ini harus percaya diri. Bahwa kita ini tidak boleh minder.
Seorang bijak pernah berpesan: “Jika kamu menghargai dirimu, orang lain akan menghargaimu. Jika kamu merendahkan dirimu, orang lain akan merendahkanmu.” Itu kuncinya. Harga diri.
Merdeka tanpa dijajah lagi artinya menjaga harga diri. Tidak jual diri untuk kepentingan sesaat. Tidak gadai negeri untuk hutang abadi. Tidak tunduk kepada kuasa asing yang menekan.
Ada janji yang selalu relevan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Itu berarti optimisme. Bahwa perubahan itu ada di tangan kita. Bukan di tangan orang lain.
Kalau bangsa ini ingin benar-benar merdeka, maka ubah dulu mentalnya. Ubah dulu kebiasaan malas. Ubah dulu rasa rendah diri. Ubah dulu sifat konsumtif. Baru kita bisa berkata: kita merdeka.
Ada lagi janji lain: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh pada jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” Merdeka tanpa dijajah lagi mensyaratkan kesungguhan. Bukan setengah hati. Bukan sekadar slogan.
Bangsa yang kuat tidak dilihat dari banyaknya senjata. Tapi dari kuatnya moral. Dari tegaknya keadilan. Dari berjalannya amanah. Kalau itu berdiri, tidak ada penjajahan yang bisa masuk.
Maka merdeka tanpa dijajah lagi adalah cita-cita. Tapi bukan sekadar cita-cita. Harus jadi kenyataan. Harus diperjuangkan setiap hari. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari keluarga. Mulai dari bangsa.
Jangan tunduk lagi. Jangan biarkan jiwa ini dijajah lagi. Karena merdeka itu bukan hanya hak. Merdeka itu kewajiban. Dan itu harus dijaga.
---
Note: Tulisan ini bersifat kontemplatif, jika tidak sesuai pandangan Anda, konsultasikan kepada pihak yang lebih berkompeten.