Ada dua orang duduk di halte yang sama. Satu dijemput takdir, satu lagi ditinggal. Padahal mereka menunggu di waktu yang sama.
Ada yang belajar siang malam, dan tetap gagal di ujian. Ada yang bersantai, dan tanpa usaha berlebih, berhasil.
Itulah hidup— sebuah ladang kemungkinan, bukan kepastian. Kesempatan untuk berhasil selalu 50:50. Dan giliran bukan jaminan. Keadilan? Mungkin hanya mitos yang kita butuhkan agar tetap waras.
Namun jangan terburu menyimpulkan.
Karena angka 50:50 bukan matematika semata. Ia bisa jadi cermin dari rahmat—atau ujian. Bisa jadi teguran—atau pelatihan. Dalam budaya timur, ada yang percaya pada karma. Di dunia barat, ada yang menyebutnya peluang. Tapi di hati yang tenang, semua itu hanyalah sebab. Bukan akhir. Bukan alasan.
"ما شاء الله كان، وما لم يشأ لم يكن" Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi.
Maka, siapa kita yang berharap giliran? Siapa kita yang menggugat keadilan, padahal tak tahu isi langit dan hikmah di balik tanah?
Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengukur hidup dengan logika manusia. Mungkin sudah saatnya kita belajar duduk, diam, dan mengamati.
Perhatikan lebih dalam, kadang ketidakadilan justru menjadi rahmat. Kadang kegagalan adalah benteng dari kebinasaan. Kadang tertinggal adalah bentuk penjagaan yang tak kita pahami.
Hidup bukan tentang siapa duluan, tapi siapa yang kuat bertahan dalam ketidakpastian. Karena takdir tidak tunduk pada antrian. Dan Tuhan tidak bisa dipaksa untuk adil sesuai definisi kita.
Maka, bersiaplah dengan hati yang luas. Belajarlah melihat bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan jiwa.
Jangan buru-buru menuduh hidup tak adil. Kadang, yang terlihat sebagai ketimpangan, adalah ujian kepekaan batinmu.
Bersikap bijak, bukan berarti menyerah. Tapi memahami bahwa kadang, yang terlihat sepele justru menyimpan pelajaran paling dalam.
Kita bukan hakim atas hidup ini. Kita hanya pejalan. Yang tak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah keberuntungan—atau ujian yang menyamar.
> *Note: Tulisan ini bersifat kontemplatif. Jika tidak sesuai dengan pandangan Anda, konsultasikan kepada pihak yang lebih berkompeten.*