Dapatkan Kedalaman Makna Kehidupan
WA 081311649594

PIKIRAN ADALAH PENDONGENG YANG LUAR BIASA

Pernahkah kita duduk diam, tidak melakukan apa-apa, tetapi pikiran sibuk menceritakan sesuatu? Ia bisa menghadirkan ulang masa lalu dengan detail yang seakan nyata, bisa juga melompat ke masa depan yang belum tentu terjadi. Pikiran adalah pendongeng yang luar biasa. Ia bercerita tanpa diminta, mengulang kisah lama, atau menakut-nakuti kita dengan imajinasi yang belum tentu akan datang.

Seperti ketika kita menunggu hasil ujian atau wawancara kerja. Padahal surat keputusan belum juga tiba, pikiran sudah membuat seribu skenario: “Bagaimana kalau gagal? Apa kata orang nanti? Bagaimana masa depanku?” Belum terjadi, tetapi hati sudah bergetar, seakan kisah itu nyata. Betapa piawainya pikiran membangun cerita.

Kadang kita terhanyut. Saat minum teh panas di teras rumah, alih-alih menikmati hangatnya, pikiran malah melayang: “Besok akan sibuk, pekerjaan menumpuk, mungkin ada masalah lagi.” Sehingga teh yang mestinya membawa tenang, justru terasa hambar. Bukankah ini bukti bahwa pikiran mampu mengubah rasa, hanya dengan cerita yang ia bisikkan?

Al-Qur’an mengingatkan, *“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.”* Ayat ini seakan menegur kita: jangan percaya begitu saja pada dongeng pikiran. Sebab belum tentu itu pengetahuan, bisa jadi hanya bayangan.

Ada pula sabda yang lembut: *“Kuatnya iman adalah ketika engkau merasa tenang dengan apa yang telah ditetapkan Allah, dan hatimu tidak goyah oleh prasangka.”* Betapa dalam maknanya. Karena sejatinya, prasangka itu hanyalah cerita-cerita yang diciptakan pikiran.

Pikiran memang luar biasa, tetapi ia tidak selalu benar. Ia bisa menakut-nakuti, bisa memperbesar masalah, bisa pula memaniskan sesuatu yang fana. Ia seperti anak kecil yang gemar bercerita. Kita boleh mendengarkan, tetapi jangan selalu percaya. Sebab yang nyata ada di sini: detak jantung, nafas yang keluar masuk, bumi yang kita pijak. Fakta sederhana inilah yang sesungguhnya menopang hidup, bukan kisah-kisah yang diputar ulang dalam kepala.

Cobalah ketika hendak tidur. Tarik selimut, pejamkan mata, lalu sadari bagaimana pikiran mulai mendongeng: tentang apa yang telah terjadi hari ini, tentang apa yang mungkin terjadi esok. Saat itu kita bisa tersenyum, lalu berkata dalam hati, “Terima kasih, wahai pikiran, kau hebat bercerita. Tapi sekarang aku ingin beristirahat.”

Kita tidak bisa menghentikan pikiran bercerita, tetapi kita bisa memilih untuk tidak hanyut dalam ceritanya. Kita bisa menjadi pendengar yang bijak, bukan penonton yang larut. Sebab pada akhirnya, bukan pikiran yang menentukan hidup, melainkan arah hati yang berpegang pada harapan dan keyakinan.

Pikiran adalah pendongeng yang luar biasa. Tapi jangan biarkan ia menjadi penguasa. Biarlah ia berkisah, sementara hati tetap tenang dalam dzikir, dan jiwa tetap kokoh pada keyakinan. Sebab di sanalah kita menemukan kedamaian yang tidak bisa diguncang oleh cerita apa pun.
WhatsApp Bagikan via WhatsApp
📚 Artikel Terbaru: