Dapatkan Kedalaman Makna Kehidupan
WA 081311649594

Yang Jauh dari Keramaian

Pondok itu sunyi selepas maghrib. Lantunan dzikir menggema di langit-langit masjid kecil. Di saf paling depan, duduk seorang santri yang tak pernah terlambat berjamaah—namanya Alif. Ia dikenal cerdas, fasih berbahasa Arab, dan sering dijadikan rujukan bahkan oleh ustaz muda. Dalam waktu dua tahun, namanya naik cepat, melebihi senior-senior yang lebih dulu mondok.

Santri-santri lain mulai mendekat. Bukan untuk bersahabat, tapi untuk berharap tertular kemuliaannya. Ada yang tiba-tiba minta diajari tafsir, ada pula yang mendadak akrab untuk sekadar bisa duduk semeja. Tapi Alif tetap tenang. Ia tak banyak bicara, selalu menjawab dengan kalimat seperlunya dan seringkali dengan senyum yang tak mudah ditebak maknanya.

Namun tanpa disadari, perlahan suasana di pondok mulai berubah.

Santri-santri yang dahulu akrab satu sama lain, kini mulai membanding-bandingkan diri.

“Dia sering ngaji sama Alif, pasti ilmunya naik,” bisik seseorang.
“Kalau bukan dari lingkaran Alif, kayaknya gak dianggap,” ujar yang lain.

Ada yang mulai ragu untuk menyampaikan pendapat di kelas, merasa terlalu biasa di hadapan Alif. Bahkan ustaz muda pun, tanpa sadar, memberi porsi lebih pada santri yang “berdekatan” dengan Alif. Yang lain? Dengar saja.

Sementara itu, Alif merasa ada jarak yang tak ia bangun, tapi berdiri di sekelilingnya.

Di malam hari, ia sering termenung di serambi masjid. Menatap bintang yang tak bersuara. Ia ingat dulu, ketika pertama kali masuk pondok, tak ada yang mengenalnya. Ia belajar bersama, tidur di kasur yang sama kerasnya, makan dari nampan yang sama kotornya. Tapi kini, ia merasa jauh. Bukan karena ia naik… tapi karena yang lain merasa turun.

Pernah suatu hari, seorang santri kecil memberanikan diri bertanya,
“Bang Alif, kenapa sekarang antum lebih sering sendiri?”

Alif menoleh. Senyum tipisnya muncul, tapi matanya basah.

> “Karena kadang, saat banyak yang mendekat, justru aku merasa makin jauh dari mereka. Mereka tak lagi jadi teman… tapi jadi penonton. Padahal aku bukan siapa-siapa.”

Santri kecil itu diam. Dan di malam itu, hanya terdengar suara hujan pertama yang turun membasahi halaman pesantren.

Kelebihan tak selalu membuat sombong. Tapi diam-diam, bisa membuat orang di sekitar merasa kecil. Dan ketika semua sibuk mendekat karena kagum, kadang yang di tengah justru merasa paling sendiri.

Malam-malam berikutnya, Alif memilih saf tengah. Duduk bersama santri lain, tak lagi di depan. Ia tahu, kemuliaan sejati bukan di tempat duduk—tapi di tempat hati.

Karena di antara ilmu dan kehormatan, ada satu ruang yang tak boleh hilang: kebersamaan yang tidak membuat siapa pun merasa bukan siapa-siapa.
WhatsApp Bagikan via WhatsApp
📚 Artikel Terbaru: