Ada luka yang tidak terlihat. Bukan di kulit, bukan di tulang, tapi di hati. Luka karena kalah. Luka karena kecewa. Luka karena merasa tidak puas dengan hidup.
Luka itu lebih berbahaya daripada penjajahan bangsa. Karena kalau tubuh dijajah, kita masih bisa melawan. Tapi kalau hati dijajah oleh luka, kita lumpuh. Kita menyerah sebelum berperang.
“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh.” Itulah hati. Itulah pusat segalanya.
Kekalahan bukan aib. Justru di situlah kita belajar arti bangkit. Kekecewaan bukan kutukan. Ia hanya tanda bahwa kita masih punya harapan. Ketidakpuasan bukan akhir. Ia adalah panggilan agar kita bergerak lebih jauh.
Tetapi kalau luka itu dipelihara, ia berubah jadi penyakit. Penyakit hati yang tidak terlihat. Dendam. Putus asa. Rasa rendah diri. Semua itu akan kita bawa sampai mati jika tidak disembuhkan.
“Janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” Kalimat itu seperti obat. Bahwa hati ini bisa sembuh dengan iman, dengan keyakinan, dengan keberanian.
Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan asing. Merdeka adalah bebas dari luka hati yang mengikat kita pada masa lalu. Bagaimana bisa kita maju kalau masih terikat pada kecewa lama? Bagaimana bisa kita tersenyum kalau luka lama masih kita simpan di dada?
Menyembuhkan luka berarti memaafkan. Menyembuhkan luka berarti menerima kenyataan. Menyembuhkan luka berarti menata ulang hidup. Tidak lagi melihat ke belakang dengan amarah, tapi menatap ke depan dengan harapan.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Itu janji. Setiap luka pasti ada obatnya. Asal kita mau mencari, mau merelakan, mau melepaskan.
Maka sembuhkan luka itu. Jangan biarkan ia jadi belenggu. Karena sejatinya kemerdekaan itu ada di dalam hati. Dan hati yang merdeka hanyalah hati yang sudah sembuh dari luka.
---
Note: Tulisan ini bersifat kontemplatif, jika tidak sesuai dengan pandangan Anda, silakan konsultasikan dengan pihak yang lebih berkompeten.