Hujan belum benar-benar turun, tapi langit di luar jendela kecil itu sudah menggantungkan awan yang kelabu. Bau tanah basah menyelinap lewat celah jeruji besi, membawa dingin dan sunyi ke dalam sel sempit berwarna kusam.
Namanya Raka. Umurnya belum genap empat puluh. Di luar, dulu dia dikenal tangguh, keras, tak tersentuh. Dunia hitam pernah memujanya. Dunia hukum, menghukumnya. Sudah hampir tiga tahun ia menjalani hidup di balik tembok dingin ini, dan tidak ada hari yang benar-benar terasa ringan sejak saat itu.
Dulu, dia tidak percaya air mata bisa keluar dari matanya. Tapi malam-malam di penjara punya cara sendiri menundukkan laki-laki sekeras apa pun.
Ia duduk di sudut ruangan, memeluk lutut, memandang lantai. Di hadapannya, secarik kertas lusuh yang tiap malam ia baca ulang. Tulisannya mulai pudar, tapi kata-katanya masih menancap seperti hari pertama ia menerimanya.
> “Nak, Ibu tak akan pernah berhenti percaya, bahkan ketika dunia berhenti. Pulanglah... pulang dalam arti yang sebenarnya. Allah masih menunggu.”
Surat dari ibunya itu datang setahun lalu. Ia membacanya saat hatinya sedang hancur, setelah menerima kabar bahwa teman terakhir yang dulu selalu dibelanya, akhirnya meninggalkannya. Bahkan tanpa pamit.
Sejak malam itu, ia mulai berubah. Perlahan. Tidak ada yang tahu, kecuali dirinya sendiri. Ia mulai mencari hening. Ia mulai membaca. Ia mulai diam ketika yang lain ribut. Bahkan, ia mulai merindukan hal-hal yang dulu ia anggap lemah: sujud, dzikir, dan air mata.
Dulu ia tertawa ketika melihat teman sekamar membaca mushaf sambil menangis. Kini, ia mengerti.
> “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat…” > (QS. Thaha: 82)
Ayat itu ia dengar dari mulut seorang ustaz sukarelawan yang datang setiap Jumat. Ustaz itu tak pernah menghakimi, hanya bercerita tentang kasih Tuhan yang tak pernah lelah menunggu.
“Kalau kamu merasa terlalu kotor buat pulang,” kata ustaz itu pelan, “ingat, Tuhan mencintai orang yang kembali, bukan orang yang sempurna.”
Ucapan itu menggema dalam hatinya selama berhari-hari. Tidak semua orang datang dalam hidup kita untuk mengubah kita secara langsung, tapi ada yang datang hanya untuk membuka satu jendela kecil di hati—dan dari situlah cahaya bisa masuk.
Kini Raka belajar memaafkan dirinya sendiri. Ia mulai menulis lagi. Bukan puisi atau cerita seperti dulu saat sekolah, tapi doa. Singkat-singkat saja. Kadang satu kalimat: “Ya Allah, jangan biarkan aku kembali ke kegelapan.”
Ia juga mulai menghitung hari, bukan untuk bebas, tapi untuk menjadi lebih baik dari kemarin.
Malam itu, ketika semua sudah tidur, Raka bangun perlahan. Ia mengambil mushaf kecil yang sudah mulai kusam, hadiah dari ustaz Jumat itu. Ia buka halaman tengah, dan jari kasarnya menyentuh lembut kalimat yang pernah menyelamatkannya:
> “Tangisan karena Allah lebih baik dari seribu pujian manusia.”
Ia memejamkan mata. Di kejauhan, adzan subuh mulai berkumandang pelan, menyelinap lewat dinding batu. Suara itu tidak nyaring, tapi cukup untuk membuat hatinya bergetar.
Ia tersenyum kecil.
Langit di luar belum cerah, tapi ada cahaya samar menembus mendung.
Raka tahu, malam ini ia tidak sepenuhnya sendiri. Dan Tuhan, seperti yang selalu dijanjikan, memang tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun yang ingin pulang.
Ia raih surat ibunya, menciumnya perlahan, lalu memandang langit dari balik jendela sempit itu.
Langit masih sama. Dan mungkin, hatinya pun mulai kembali.