Pernahkah kamu duduk menatap langit, dan merasa langit ikut marah saat kamu kecewa? Atau merasa hujan turun hanya untuk menambah duka?
Padahal langit tidak tahu kamu sedang patah hati. Hujan tidak tahu kamu sedang berjuang menahan air mata. Dan bumi terus berputar tanpa tahu kamu ingin waktu berhenti.
Alam semesta tidak punya niat. Ia tidak punya akal, tidak punya perasaan, dan tidak tahu apa-apa tentang hidupmu.
Ia tidak pernah memihakmu. Dan tidak pula memusuhimu.
Ia hanya bergerak, seperti air yang mengalir, seperti angin yang berhembus, seperti malam yang datang tanpa janji.
Tapi mengapa kita sering merasa dunia tidak adil? Mengapa kita merasa langit menekan? Atau nasib seolah mempermainkan?
Mungkin karena kita terlalu terbiasa mencari makna dari setiap luka. Padahal tidak semua luka punya pesan. Tidak semua kehilangan datang dengan pelajaran. Kadang, hal-hal buruk… hanya terjadi.
“إن الله لا يظلم الناس شيئا ولكن الناس أنفسهم يظلمون” Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri.
Bumi tidak pernah merencanakan kegagalanmu. Langit tidak pernah mengatur kecewamu. Semesta tidak sedang mengujimu secara personal.
Hal-hal hanya terjadi. Karena begitulah dunia bekerja.
Maka jangan buru-buru marah pada kehidupan. Jangan buru-buru menyalahkan langit. Karena langit tidak punya alasan untuk mencelakai. Ia hanya ada. Begitu pula gelap dan terang, bahagia dan duka.
Semua itu datang… tanpa niat. Tanpa dendam. Tanpa rencana.
Yang bisa kau kendalikan adalah hatimu. Bukan semestanya. Bukan arusnya. Bukan jalannya.
Karena baik atau buruk, bukan dari alam, tapi dari bagaimana jiwamu merasakannya.
Note: Tulisan ini bersifat kontemplatif. Jika tidak sesuai dengan pandangan Anda, konsultasikan kepada pihak yang lebih berkompeten.