Sebuah batu menggelinding dari bukit— dan melukai kaki seorang pejalan. Batu itu tidak jahat. Ia tidak pernah niat. Ia hanya jatuh.
Seperti angin yang datang dan merobohkan atap, seperti gelombang yang menelan kapal. Tidak ada niat dalam semua itu. Tidak ada rencana tersembunyi. Mereka tidak hidup, maka mereka tidak memburu.
---
Ada perbedaan yang nyata antara *yang hidup* dan *yang sekadar ada*. Gempa bumi tidak merancang kehancuran. Ia hanya terjadi. Topan tidak menaruh dendam pada siapa pun. Ia hanya berputar.
Tapi serigala… ia melihat, mencium, dan mengendap. Ia memilih. Ia menanti waktu.
Seekor ikan besar memangsa yang lebih kecil— bukan karena kebetulan, tetapi karena dorongan hidup. Ada niat. Ada tujuan. Ada kehendak untuk menang.
---
Di dunia makhluk hidup, kehidupan sering berarti mengambil dari yang lain. Bertahan berarti mengalahkan. Dan dalam sunyi rantai makanan, ada kehendak yang terus mengalir, yang tak dimiliki oleh batu, air, atau tanah.
---
"الْكُلُّ لَهُ قَدَرٌ وَحِكْمَةٌ" Segala sesuatu punya kadar dan hikmah. Tapi tidak semua mengandung kehendak.
Karena itu jangan bingung, mengapa badai bisa datang tanpa alasan. Ia bukan musuhmu—dan juga bukan temanmu. Ia tidak menyukaimu, tapi juga tidak membencimu.
Namun manusia, dan makhluk hidup lainnya, mampu menyusun langkah. Menyusun skenario. Menyusun penyerangan.
Itulah bedanya. Yang hidup bisa memutuskan. Yang mati, hanya menjadi.
Maka ketika kamu tertimpa bencana, jangan terburu menyalahkan alam. Ia tidak menyerangmu. Ia hanya bergerak. Berbeda saat kamu ditikam oleh sesama makhluk hidup— di sana ada kehendak. Ada niat. Ada kemungkinan dosa.
Dan di antara keduanya, di sanalah ujianmu berada. Membedakan mana yang layak ditakuti, mana yang hanya layak dihadapi.
Bersikaplah tenang. Jangan panik pada apa yang tidak bernyawa. Dan berhati-hatilah pada makhluk hidup, yang bisa mencintai sekaligus menyakiti.
> *Note: Tulisan ini bersifat kontemplatif. Jika tidak sesuai dengan pandangan Anda, konsultasikan kepada pihak yang lebih berkompeten.*