Cahaya Sendiri
Ada orang yang begitu ingin unggul.
Tapi bukan karena ingin naik.
Melainkan agar orang lain turun.
Itulah jebakan.
Jebakan paling licik dalam persaingan hidup.
Karena siapa pun yang mencoba meredupkan cahaya orang lain, justru sedang memadamkan sinarnya sendiri.
Energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh, malah habis untuk menjatuhkan.
Padahal…
Tidak ada satu pun bintang yang bersinar lebih terang karena berhasil memadamkan cahaya bintang lain.
Langit tetap luas. Cakrawala tetap lapang.
Tuhan memberi tempat untuk semua bintang, sesuai masanya, sesuai orbitnya.
"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan."
(QS. Al-Baqarah: 148)
Lomba itu bukan soal saling menjatuhkan.
Tapi soal siapa yang paling tekun berbuat baik.
Siapa yang paling bersinar dalam versinya sendiri.
Setiap manusia membawa cahaya.
Bukan untuk saling padam. Tapi untuk saling terang.
Cahaya itu bernama niat. Bernama tekad. Bernama ketulusan.
Ketika cahaya itu dijaga, tak ada yang bisa memadamkannya. Bahkan angin paling keras sekalipun.
Fokuslah pada misi, bukan kompetisi.
Fokus pada visi, bukan iri.
Fokus pada pertumbuhan diri, bukan perbandingan yang menyakiti.
Karena iri itu melukai dua arah.
Yang diiri, tidak terluka. Tapi yang iri, terbakar perlahan.
Sebab api dalam dada akan membakar cahaya sendiri.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Menyalakan diri. Menjadi versi terbaik dari yang sudah diberikan Tuhan.
Berbuat sebaik-baiknya. Sekuat-kuatnya. Sema'mpu-mampunya.
Tanpa perlu mengusik lilin orang lain.
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kemenangan bukan soal terlihat menang.
Tapi soal bagaimana hati tetap bersih, niat tetap lurus, langkah tetap teguh.
Karena saat cahaya dalam diri menyala, maka dunia akan merasa hangat.
Tanpa harus meredupkan siapa pun.
Ingat satu hal ini:
Mentari tidak pernah iri pada bulan.
Begitu juga lilin tidak perlu membakar lilin lain untuk bisa terang.
Yang dibutuhkan hanya satu: nyalakan diri sendiri.
Dan jaga apinya tetap menyala, walau diterpa angin, walau dicemooh, walau dilupakan.
Tugas manusia bukan memadamkan cahaya orang lain.
Tugas manusia adalah memastikan cahaya dalam diri tetap hidup.
Terus menyala.
Sampai dunia jadi lebih terang. Bersama.
📚 Artikel Terbaru:
- 🔗 Kehidupan Selalu Berhutang pada Seorang Ibu
- 🔗 Kebaikan dalam Sejarah Kaum Muslimin
- 🔗 PIKIRAN ADALAH PENDONGENG YANG LUAR BIASA
- 🔗 HIDUP MODERN HANYA BUTUH DATA, ANGKA DAN FAKTA
- 🔗 Ibu Sayang Kamu
- 🔗 Merdeka ! Jangan Mau Dijajah Lagi
- 🔗 Sembuhkan Luka, Agar Benar-Benar Merdeka
- 🔗 Kalau Mercusuar Tidak Lagi Menunjukkan Cahaya, Ke Mana Kita Mencari Panduan?
- 🔗 Langit Masih Sama
- 🔗 Hiduplah dengan Baik, Karena Segala Sesuatu Ada Sebab dan Akibatnya
- 🔗 Entropi, Kacau, Brengsek: 3 Kata Sama Makna, Beda Jiwa
- 🔗 Zaman saat Pengetahuan Menjadi Basis Tindakan
- 🔗 Kenapa Pahlawan Lokal Tak Laku di Mimbar
- 🔗 Makan Sate : Kita Nikmati Dagingnya, tapi Buang Tusuknya
- 🔗 Kita, Sisa yang Akan Didaur Ulang
- 🔗 Tidak Belajar, Maka Tidak Akan Mengerti
- 🔗 Menyadari Peristiwa
- 🔗 Ketika Mata dan Telinga Menipu Kita
- 🔗 Jangan Terburu-buru Mengambil Kesimpulan
- 🔗 Yang Jauh dari Keramaian
- 🔗 SURVIVAL KIT 2030: Bertahan dalam Dunia yang Bergerak Terlalu Cepat
- 🔗 Keraguan adalah Jalan Ilmu Pengetahuan
- 🔗 Cara Kerja Cerita Keajaiban
- 🔗 Peluang itu Selalu 50:50
- 🔗 Nikmati Pencapaianmu, Disini Saat Ini Seutuhnya