Di langit ketujuh Planet Ardh, di sebuah taman bernama Bayt An-Nur, seorang jiwa agung yang dikenal sebagai Elbrahim duduk dalam keheningan. Ia adalah sosok panutan kuno, yang namanya disebut dalam tiga aliran besar: Nuriya, Salvaan, dan Auriya. Ketiganya saling mengaku sebagai pewaris jalan sucinya.
Namun, alih-alih bersaudara, ketiga umat ini kini saling menjauh, mencurigai, bahkan saling mengkafirkan.
Dan pada suatu ketika, Sang Cahaya Tertinggi—Nur Azhim—memanggil Elbrahim kembali.
“Wahai Elbrahim, bangkitlah. Mereka yang kau tinggalkan telah memecah satu cahaya menjadi tiga nyala yang saling membakar. Turunlah ke Ardh. Bangunkan mereka. Ingatkan bahwa Aku satu, dan semua utusan-Ku berjalan dari bayanganmu.”
Elbrahim menjawab pelan, “Tuhanku, bukankah telah Kau kirim Aris, Musael, dan Isaan setelahku? Bukankah mereka lebih dekat kepada kaum-kaum itu?”
“Benar. Namun kini, nama-nama mereka telah jadi dinding, bukan jembatan. Tapi namamu masih mereka semua akui. Maka pergilah. Engkau adalah akar. Ajak mereka kembali ke batang dan akar yang satu.”
Singgah di Negeri Nuriya
Elbrahim pertama kali mendarat di tanah gurun Hijar, pusat umat Nuriya—kaum yang dikenal sangat taat kepada ajaran kitab terakhir. Mereka mengaku sebagai pemegang akhir risalah dari Aris, nabi penutup, yang jalannya mereka ikuti dengan semangat dan kadang dengan kemarahan.
Ia mencoba bertemu dengan Imam Zubairin, pemimpin Dewan Ulama Nuriya.
“Aku datang bukan membawa agama baru,” kata Elbrahim. “Aku datang untuk mengingatkan bahwa Isaan dan Musael juga bagian dari jalan kalian. Mereka pun datang dari Nur Azhim.”
Namun Zubairin menjawab, “Kami tidak menerima campur tangan dari selain Aris. Jalan kami sudah sempurna. Siapa pun yang menyerukan penyatuan dengan Salvaan atau Auriya, ia adalah pelenceng.”
Elbrahim pun dianggap fitnah. Ia dikucilkan sebagai pengacau, dan akhirnya terusir dari wilayah Nuriya. Berharap di Wilayah Salvaan
Ia melanjutkan perjalanan ke Galileya, pusat spiritual kaum Salvaan, pewaris jalan kasih yang mereka klaim diwariskan oleh Isaan, sang pengorban. Mereka dikenal sebagai pembawa cinta, namun kini hidup dalam struktur kekuasaan religius yang megah.
Elbrahim menemui Pater Kalvan, pemimpin agung Salvaan, dan menyampaikan pesan damai:
“Cinta sejati bukan hanya untuk yang satu kelompok. Musael dan Aris juga membawa risalah dari Nur Azhim. Janganlah kalian saling menafikan cahaya yang sama.”
Namun Kalvan menjawab tenang, “Kami percaya cinta, tapi cinta kami sudah ditentukan jalurnya. Engkau bukan bagian dari perjanjian baru kami. Cahaya yang kau bawa tidak sesuai dengan Injilan.”
Maka Elbrahim pun kembali ditolak. Ia dituduh menyesatkan umat dari kasih sejati. Langkah Terakhir ke Auriya
Elbrahim pun melangkah ke negeri tinggi Ziona, pusat kaum Auriya—pewaris jalur Musael, pembawa hukum dan tradisi tua. Mereka mengklaim diri sebagai umat pilihan Nur Azhim, yang menjaga wasiat asli dari zaman lampau.
Ia bertemu dengan Rab Elanon, cendekiawan Auriya. Elbrahim berkata, “Kalian mengenalku sebagai leluhur kalian. Tapi ingatlah, Isaan dan Aris pun berasal dari Nur yang sama. Mengapa kalian menutup pintu bagi cahaya yang datang setelah Musael?”
Elanon menggeleng, “Kami tidak menolakmu, Elbrahim. Tapi risalah setelah Musael bukan bagian dari Tauraya kami. Kami menjaga warisan kami, dan kami tidak menerima yang baru.”
Maka lagi-lagi, Elbrahim dipersilakan pergi dengan hormat, tapi jelas ia ditolak sebagai jembatan persatuan. Kesendirian di Padang Zahra
Kini Elbrahim duduk sendiri di tengah Padang Zahra, langit kemerah-merahan, tanah retak-retak. Ia menengadah dan berkata kepada Sang Nur:
“Tuhanku, aku telah mencoba. Tiga cahaya yang dahulu berasal dari satu pelita kini saling memadamkan. Lidah mereka memuji-Mu, tapi tangan mereka membangun tembok. Mereka bukan tidak tahu, mereka menolak tahu.”
Dan suara dari langit menjawab:
“Wahai Elbrahim, engkau bukan diutus untuk memaksa mereka bersatu. Engkau hanya diutus untuk menyampaikan. Biarkan waktu dan kesadaran yang akan memecahkan tembok mereka. Kembalilah, dan damailah.”
Note : Cerita ini adalah fiksi yang berangkat dari awal kesadaran