Dapatkan Kedalaman Makna Kehidupan
WA 081311649594

Hukuman Klasik vs Terapi Gen

Dulu, orang mencuri dipotong tangannya. Sekarang? Masuk penjara.
Di masa depan? Bisa jadi cukup disuntik satu terapi—dan ia tak mencuri lagi.

Bukan karena tobat. Tapi karena otaknya tak lagi punya dorongan untuk mencuri. Karena gennya sudah diubah.

Iya, kita sedang masuk era itu: ketika kejahatan tidak lagi dihukum, tapi disembuhkan. Bahkan dari akarnya—dari dalam tubuh manusia itu sendiri.

Ada yang bilang, kejahatan itu soal niat. Tapi bagaimana kalau ternyata, sebagian niat itu muncul dari dalam tubuh, dari dorongan biologis, bahkan dari gen?

Gen itu seperti software. Ada yang warisan. Ada yang error. Dan error itu bisa fatal. Bisa muncul dalam bentuk kekerasan. Dorongan seksual menyimpang. Atau ketagihan mencuri.

Dulu, orang seperti itu disebut jahat. Sekarang, bisa jadi disebut pasien.
Dan di masa depan, bisa jadi mereka disebut: *calon sembuh.*

Teknologi gen sekarang sudah bisa memotong, mengganti, atau menonaktifkan gen tertentu. Namanya: CRISPR.
Dengan alat itu, gen yang membuat seseorang mudah marah bisa dimatikan. Gen yang membuat orang impulsif bisa dijinakkan.

Jadi, bayangkan: bukan lagi hakim yang memutuskan berapa lama ia dipenjara, tapi dokter yang menentukan gen mana yang perlu diatur ulang.

Memang, itu belum umum. Belum murah. Dan belum disepakati semua pihak. Tapi teknologi tak pernah menunggu kita siap. Ia jalan terus.

Yang dulu mustahil, sekarang biasa.
Yang sekarang terdengar gila, besok bisa jadi standar.

Saya jadi ingat, dulu, di kampung saya, ada pencuri ayam. Dia ketangkap, lalu diarak. Tangannya diikat. Lalu di-“sidang” ramai-ramai.

Sekarang? Ia mungkin masuk penjara. Tapi di masa depan? Bisa jadi cukup tes DNA, dan terapi dua minggu.

Sembuh.

Lalu kita harus bertanya: kalau bisa sembuh, kenapa masih harus dilukai?
Kalau bisa dicegah dari akarnya, kenapa masih dihukum di ujungnya?

Tentu, tidak semua kejahatan bisa disederhanakan jadi urusan gen. Tapi kita tidak bisa terus menerus menyederhanakan semuanya jadi niat dan dosa juga.

Manusia itu kompleks. Dan kadang, dosa itu bukan hanya soal pilihan. Tapi juga soal dorongan dalam darah dan pikiran.

Maka masa depan keadilan tidak lagi hanya soal memotong tangan. Tapi menyentuh lapisan terdalam manusia: pikirannya. Jiwanya. Bahkan gennya.

Dan nanti, mungkin kita akan dengar anak cucu kita berkata:

*"Untung kita hidup di zaman terapi. Bukan di zaman potong tangan."****
WhatsApp Bagikan via WhatsApp
📚 Artikel Terbaru: