Tidak semua tanya dijawab dengan suara. Tidak semua setuju diucapkan dengan lisan. Ada yang menjawab dengan diam.
Tapi diam bukan jawaban tunggal yang bisa dipukul rata. Kadang dia berarti setuju. Kadang dia justru tanda tak ingin. Kadang dia sekadar tak tahu harus berkata apa.
Diam adalah bahasa yang paling misterius. Ia berbicara hanya kepada yang mampu merasa. Bukan yang sekadar mendengar.
Dalam Islam, ada satu kaidah yang dikenal: Diamnya perawan adalah izinnya. Karena malu adalah bagian dari iman.
Ada juga sabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.
Diam itu bisa bentuk keimanan. Bisa juga kebijaksanaan. Bisa pula tanda penyesalan.
Tapi jangan buru-buru menyimpulkan. Karena makna diam berbeda di setiap ruang. Berbeda di setiap budaya.
Di Timur, diam itu sopan. Orang Jawa bilang: menunduk itu tanda nerimo. Di Jepang, diam adalah penghormatan. Orang yang tak menjawab, belum tentu tidak sepakat.
Tapi di Barat, diam bisa disalahpahami. Mereka biasa berkata: silence means no. Atau malah: guilty silence. Karena dalam logika mereka, yang jujur harus bersuara.
Lalu bagaimana kita memahami diam?
Dengan hati. Dengan rasa. Dengan konteks. Karena diam tidak berdiri sendiri. Ia hidup dalam relasi. Dalam situasi.
Diam seseorang bisa berarti: “Aku setuju, tapi malu.” “Aku menolak, tapi takut.” “Aku ingin, tapi tak mampu berkata.” “Aku bingung, beri aku waktu.”
Inilah pentingnya tabayyun. Dan sabda itu berkata: cukup bagi seseorang disebut dusta jika ia menyampaikan semua yang ia dengar.
Maka jangan terburu-buru menghakimi diam. Bisa jadi ia sedang menanti pemahaman.
Yang bijak akan mendengarkan diam dengan mata hati. Karena ada kebenaran yang hanya bisa dipahami dalam sunyi.
Dan dalam banyak keadaan, Diam lebih nyaring dari kata-kata.
Lebih dalam dari debat. Lebih jujur dari retorika.
Diam adalah bahasa jiwa. Jika engkau tak mendengarnya, jangan memaksakan tafsir.
Hati manusia bukan mesin. Tiap diam punya sebab. Dan sebabnya hanya ia dan Tuhannya yang tahu.