Ada rindu yang tak tertulis di langit, namun menggema di setiap sujud. Rindu untuk pulang. Rindu untuk kembali. Rindu untuk bertemu dengan Dia, yang menciptakan setiap desir nafas dan detak hati.
Namun anehnya, meski kita tahu tujuan akhir itu adalah keindahan—syurga, dan perjumpaan yang abadi dengan-Nya—Allah, kita tetap gemetar membayangkan jalan menuju ke sana: kematian.
Manusia adalah makhluk yang diliputi paradoks. Ia percaya syurga adalah tempat yang paling indah, namun ia takut untuk pergi ke sana.
Ia mengucapkan doa penuh cinta, "Ya Allah, pertemukan aku dengan-Mu," namun di waktu yang sama, ia memohon agar usia masih panjang, agar waktu masih ditambah, agar dunia belum selesai.
Ia tahu bahwa kematian bukan akhir, melainkan awal dari kepulangan. Namun detik-detik ke sana tetap terasa menggigilkan.
"Barang siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya." Begitu sabda yang tenang namun dalam. Namun, cinta manusia pada pertemuan itu seringkali masih terhalang oleh ketakutannya sendiri. Takut akan hisab. Takut akan penolakan. Takut belum cukup layak, belum cukup bersih, belum cukup siap.
Syurga itu rindu pada penghuninya. Namun manusia, meski tahu bahwa itulah rumah, masih merasa asing dengan pintunya.*