Dapatkan Kedalaman Makna Kehidupan
WA 081311649594

Musik yang Melalaikan atau Kita yang Gagal Memahami Nada

Ada momen di mana denting nada menyerupai desir angin malam. Ia tak terlihat, tapi bisa membuat hati bergidik. Seutas lagu yang terdengar lembut bisa menggugah kenangan, membuka pintu masa lalu, atau bahkan meneteskan air mata. Tapi di saat lain, nada yang sama bisa jadi seperti kabut yang menutup kesadaran, membius hati hingga tak lagi peka. Maka, bukan musiknya yang berubah. Mungkin kita yang tak lagi tahu ke mana arah telinga dan jiwa hendak dibawa.

Banyak orang menyalahkan musik. Terlalu banyak. “Musik itu melalaikan,” kata sebagian. Tapi benarkah yang melalaikan adalah musik? Ataukah kita yang diam-diam sudah lama lalai, bahkan sebelum nada pertama diputar?

Seperti secangkir teh hangat. Bagi yang tahu waktu dan takarannya, teh menenangkan. Tapi jika diminum tanpa jeda, tanpa memperhatikan tubuh, ia bisa menjadi racun. Begitu pula musik. Ketika ia hanya menjadi latar untuk menghindar dari keheningan, pelarian dari sunyi yang seharusnya menjadi ruang tafakur, saat itulah ia kehilangan maknanya—dan kita kehilangan arah.

Ada orang mendengar musik dan makin rindu kepada Tuhan. Ada pula yang mendengar musik, tapi justru makin tenggelam dalam khayal dan lupa arah kiblat hati. Maka dikatakan, “Apa yang tidak membuatmu semakin dekat kepada Allah, maka sejatinya sedang menjauhkanmu.”

Seperti kita saat makan. Sepiring nasi bisa mengenyangkan, bisa pula melalaikan. Jika makan jadi alat syukur, ia membawa berkah. Tapi bila sekadar memuaskan hawa, bahkan makanan pun bisa menjauhkan dari kesadaran. Maka bukan makanannya yang salah, tapi cara kita mendekatinya. Begitu pula dengan musik—ia hanya alat, bukan tujuan.

Ada yang berkata, “Sesungguhnya di dalam hati ada celah yang tidak bisa ditambal kecuali dengan dzikir kepada Allah.” Jika musik hanya menjadi pengganti dzikir, menggantikan perenungan, menggusur waktu tafakur, tentu ia menjadi tirai. Tapi jika ia membawa ingatan kepada kebesaran ciptaan-Nya, menyadarkan akan kefanaan, dan membuat hati menjadi lebih halus—bukankah itu juga sejenis dzikir?

Dengarkanlah lagu kehidupan di luar sana. Suara hujan yang turun di sore hari, desah angin di sela dedaunan, detak jam dinding yang setia menandai waktu—semua itu adalah musik. Dan tak satu pun darinya mengganggu hati, karena kita tak merasa “terhibur” olehnya, tapi justru merasa “terhubung”. Mungkin di situlah letaknya: apakah musik membuat kita terhibur, ataukah membuat kita terhubung?

Hidup ini dipenuhi nada. Suara bayi yang menangis di pagi hari, panggilan azan di sela aktivitas, bahkan tangis dalam sujud malam—semuanya memiliki ritme. Jika kita gagal menangkap harmoni itu, kita akan menuduh semua suara sebagai gangguan. Padahal mungkin, kitalah yang kehilangan telinga jiwa.

Maka mari bertanya pada diri sendiri, bukan pada speaker: Apakah yang sedang kudengarkan ini membuatku lebih sadar atau justru lebih lalai? Apakah nada ini membawa damai atau sekadar menjadi pelarian dari gelisah yang tak selesai?

*“Barang siapa yang malamnya tidak menangis karena takut kepada Allah, maka biarlah ia menangis karena kehilangan dunia. Sebab tangis itu akan membuat matanya ingat bahwa ada yang lebih pantas ditangisi.”*

Musik bukan musuh. Tapi hati yang tertidur—itulah yang perlu dibangunkan. Sebab hanya hati yang terjaga yang bisa membedakan antara hiburan dan hidayah, antara sekadar nada dan panggilan Tuhan.
WhatsApp Bagikan via WhatsApp
📚 Artikel Terbaru: