Pagi masih muda saat Dira duduk menyendiri di bawah pohon mangga yang tumbuh di sudut halaman pesantren. Embun masih membasahi rerumputan, dan udara membawa dingin yang samar-samar menyentuh kulit. Tapi dada Dira terasa lebih dingin dari itu—dingin yang datang dari dalam.
Ia baru saja dimarahi keras oleh salah satu ustaz karena tak hafal ayat yang seharusnya ia ulangkan pagi ini. Suaranya gemetar, lidahnya kaku, dan pandangannya kabur oleh tangis yang ia tahan-tahan. Ia ingin menjelaskan, bahwa semalam ia sulit tidur karena rindu rumah. Tapi suara ustaz terlalu tinggi, terlalu tajam. Tak ada ruang untuk kata “maaf” mengalun dengan tenang.
Dira mengusap air matanya diam-diam. Ia tahu, ini bukan pertama kalinya ia dianggap malas, bodoh, atau bandel. Di rumah pun kadang begitu. Bapak sering kesal jika Dira bertanya terlalu banyak. “Ikuti saja, jangan banyak alasan,” katanya.
“Boleh duduk di sini?”
Sebuah suara tenang mengusik keheningan. Dira menoleh. Seorang lelaki tua dengan kain sarung dan peci putih berdiri sambil tersenyum kecil. Ia adalah Pak Leman, penjaga masjid pesantren, yang dikenal jarang bicara, tapi selalu hadir saat waktu sepi.
“Boleh,” jawab Dira pelan.
Pak Leman duduk bersila, memandang pepohonan yang diterpa sinar mentari pagi.
“Kamu menangis ya?”
Dira mengangguk, tak ingin pura-pura kuat.
“Karena dimarahi?”
Kali ini ia tak menjawab. Hanya menunduk. Pak Leman tak mendesak. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Kamu tahu, Nak... kadang orang memarahi bukan karena mereka benar, tapi karena mereka lelah. Lelah karena harapan mereka tidak sesuai. Lelah karena takut kecewa.”
“Tapi... kalau sayang, kenapa harus marah?” suara Dira lirih. “Apa marah dan menghukum itu tanda kasih sayang?”
Pak Leman menghela napas. “Itu yang sering salah paham. Ada orang yang percaya cambuk bisa membuat hati patuh. Padahal hati itu bukan binatang. Hati hanya tunduk pada kelembutan.”
Dira menatap wajah tua itu, lalu bertanya, “Apa hukuman bisa bikin orang berubah?”
“Kadang bisa,” jawab Pak Leman pelan, “tapi bukan berubah karena cinta, hanya berubah karena takut. Dan perubahan karena takut, biasanya tidak bertahan.”
Sunyi sejenak. Burung-burung mulai berkicau dari atap masjid.
“Apakah Allah juga menghukum seperti itu? Menyiksa orang yang tidak patuh?” tanya Dira perlahan.
Pak Leman tersenyum lembut. “Allah itu Maha Lembut, Maha Menunggu, dan Maha Tidak Pernah Kehabisan Cara. Dia tidak menyiksa untuk membuat kita tunduk. Ia mengajak, bukan menyeret. Ia menunggu kita kembali, bahkan saat kita sudah jauh.”
Dira menunduk. Rasanya ada sesuatu yang hangat merembes ke dalam dadanya, seperti mentari pagi yang pelan-pelan mengeringkan embun di ujung rumput.
“Jadi... aku tidak perlu takut kalau aku belum sempurna?” gumamnya.
“Tidak, Nak,” kata Pak Leman sambil mengelus kepala Dira. “Yang penting kamu tetap mau belajar, tetap ingin dekat dengan kebaikan. Tuhan tidak mencambuk. Tuhan memeluk.”
Mata Dira berkaca, tapi kali ini bukan karena marah atau sedih. Ia merasa damai. Seolah kabut dingin di hatinya perlahan-lahan memudar.
Ia menatap langit yang mulai cerah, lalu bergumam, “Kasih sayang yang sejati tidak menyiksa. Dan Tuhan sejati… tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kita kembali.”
Pak Leman hanya tersenyum. Di pagi yang tenang itu, di bawah pohon mangga yang rimbun, hati kecil Dira menemukan sepotong keteduhan yang selama ini ia cari.