Ada hari-hari ketika kita membuka tudung saji dengan harapan, lalu menunduk pelan—karena tak ada apa-apa di sana. Mungkin bukan hanya soal makanan, tapi juga soal harapan yang belum tergenggam, doa yang belum terkabul, atau hidup yang belum mengabulkan permintaan-permintaan kecil kita. Di saat seperti itu, barangkali kita bisa belajar satu hal: bahwa kekosongan adalah bagian dari perjalanan menuju kepenuhan.
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
"Jika kamu bersyukur, Aku akan tambah nikmat padamu."
"Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya."
Seorang ibu yang tetap menjerang air meski tak ada beras, seorang ayah yang memaksakan senyum di hadapan anak-anak walau dompetnya hanya berisi koin—mereka adalah cermin keteguhan hati. Bukan tidak merasa perih, tapi mereka percaya bahwa sabar bukan diam, sabar adalah bertahan. Bahwa tidak ada yang benar-benar kosong jika masih ada iman yang menyala di dada.
Jangan takut saat yang mau dimakan belum ada. Mungkin hari ini kita diuji dengan kekurangan, tapi siapa tahu esok pagi Allah menurunkan rezeki-Nya dari arah yang tak disangka. Tetaplah jaga hati agar tak mengutuk keadaan. Sebab dalam sunyi dan lapar itulah, terkadang Allah sedang memanggil kita untuk lebih dekat kepada-Nya.