Ada satu pelajaran mahal yang tak diajarkan di sekolah.
Tak juga di kampus.
Tapi hidup mengajarkannya—dengan keras.
Bahwa...
Pada akhirnya, manusia hanya memikirkan dirinya sendiri.
Egois?
Tidak juga.
Itu fitrah.
“Kullu nafsin bima kasabat rahiinah.”
Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (QS. Al-Muddatsir: 38)
Ayat ini tidak memerintahkan kita mengandalkan orang lain.
Ia justru mengingatkan: semua tanggung jawabmu—tanggunganmu.
Temanmu boleh peduli.
Saudaramu bisa membantu.
Tapi mereka tidak akan menanggung akibatnya.
Bukan mereka yang ditimbang amalnya di akhirat.
Itu sebabnya, orang cerdas tahu satu hal:
Fokus.
Fokus membangun dirinya.
Bukan karena sombong.
Tapi karena sadar: ia akan berdiri sendiri di hadapan Tuhan.
“Fa man ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah. Wa man ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah.”
Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, dia akan melihat (balasannya). Dan siapa pun yang berbuat keburukan seberat zarrah, dia juga akan melihatnya. (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Karena itu...
Tak usah baper saat tak ada yang benar-benar peduli.
Itu justru peluang untuk bangkit.
Untuk menemukan bahwa: yang kau cari selama ini... ada dalam dirimu sendiri.
Tegakkan kepala.
Jalan terus.
Jangan berharap dunia mengerti.
Tugasmu bukan dimengerti.
Tugasmu: menjadi terang.
Seperti lilin di ruang gelap.
Ia tak pernah bertanya: “Mengapa aku sendirian?”
Ia memilih menyala.
Sendiri pun tak apa—asal memberi cahaya.
Begitulah seharusnya kita hidup.