Ia bangun lebih pagi dari biasanya. Tapi tetap saja kesedihan datang menjemput. Air matanya tak mampu ditahan. Padahal ia tidak bersalah. Tidak melukai siapa-siapa. Tidak mencuri. Tidak menganiaya. Tapi kenapa hidup seberat ini?
Pertanyaan itu membebani banyak orang. Termasuk saya. Mungkin juga Anda.
Tapi hari ini, saya ingin berkata tegas: Penderitaan bukanlah hukuman. Ia adalah panggilan. Panggilan untuk pulang. Ke tempat yang seharusnya: kesadaran.
---
"Apa saja musibah yang menimpa kamu, itu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri." (QS. Asy-Syura: 30)
Ya. Tapi ayat itu bukan menghukum. Itu mengingatkan. Bahwa ada sistem. Ada hukum alam dan ketetapan Allah yang bekerja. Dan kita diminta untuk sadar. Bukan untuk terpuruk.
---
Nabi SAW juga bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, hingga duri yang menusuknya, kecuali itu menjadi penghapus dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, penderitaan itu penghapus. Bukan penolak. Ia bukan penanda Allah membenci kita. Ia justru mungkin tanda kita sedang dibersihkan. Agar lebih kuat.
---
Ibnu Athaillah berkata dalam Al-Hikam: “Terkadang Allah membukakan pintu ketaatan untukmu tapi menutup pintu penerimaan. Terkadang pula Dia menimpakan musibah tapi membukakan jalan menuju-Nya.”
Dalam bahasa kita: Kadang saat senang, kita lupa. Kadang saat sakit, justru kita kembali. Merenung. Menunduk. Lalu menangis... dan tersambung lagi dengan Tuhan.
---
Kesadaran itu mahal. Dan sering, kita baru mencapainya lewat derita. Karena luka membuka ruang untuk cahaya masuk.
Maka jangan buru-buru menyebut penderitaan sebagai kutukan. Ia bisa jadi alarm. Bahwa kita sedang terlalu jauh dari diri sejati. Atau terlalu keras kepala menolak arah Ilahi.
---
Kalimat Imam Ghazali ini perlu kita ulang: “Kesulitan adalah jalan bagi Allah untuk mendekatkan hamba kepada-Nya.”
Jadi tenang. Kuatkan dada. Buka mata hati. Mungkin penderitaanmu bukan ujian. Tapi jalan pintas menuju kebangkitan.
---
Tuhan sedang memanggil. Lewat gelisah. Lewat kesakitan. Lewat kehilangan.
Dan jika engkau tanggapi panggilan itu dengan sabar dan kesadaran, keluarlah engkau dari derita. Dengan hati yang lebih bersih. Lebih tajam. Lebih tangguh.