Dapatkan Kedalaman Makna Kehidupan
WA 081311649594

Langit Tak Pernah Memukul

Angin sore menyapu halaman pesantren kecil itu, membawa aroma tanah basah dan daun jatuh. Di sudut dekat pohon mangga tua, duduk seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun. Namanya Damar. Bajunya lusuh, wajahnya redup, dan matanya... menyimpan sesuatu yang berat—terlalu berat untuk usianya.

Hari itu, ia baru saja dihukum berdiri di bawah terik matahari selama satu jam. Hanya karena ia lupa membawa buku pelajaran. Lagi.

"Anak malas," kata gurunya.

"Tak tahu diatur," kata ustaznya.

Namun Damar tidak malas. Ia hanya terlalu sering lupa. Banyak hal di kepalanya yang belum ia pahami. Sejak ditinggal ibunya setahun lalu, ia seperti kehilangan arah. Ayahnya hanya bicara saat marah. Dan di pesantren, tempat yang seharusnya ia harapkan menjadi rumah baru, hukuman menjadi bahasa yang paling sering ia dengar.

Di bawah pohon mangga, ia menyembunyikan wajah di antara lutut. Tidak menangis. Hanya diam.

Lalu terdengar suara pelan, lembut, seperti angin yang tahu bagaimana mengusap luka.

"Capek, ya?"

Damar mendongak. Di depannya berdiri seorang lelaki tua berjenggot putih, duduk di bangku bambu. Ustaz Mahrus—penjaga perpustakaan kecil di ujung kompleks pesantren. Tak banyak yang mendekatinya. Tapi semua tahu, beliau tidak pernah memarahi siapa pun.

"Iya..." jawab Damar lirih.

Ustaz Mahrus tersenyum, menatap langit yang memerah.

"Kau tahu, Damar, langit itu... tak pernah memukul siapa pun. Tapi semua tumbuhan tumbuh karena sinarnya."

Damar menatap langit. Sunyi. Tapi terasa hangat.

"Kalau aku bandel, memang harus dihukum, kan, Ustaz?"

Ustaz Mahrus menoleh pelan. "Menurutmu, Damar... apakah kekerasan itu tanda sayang?"

Damar terdiam. Ia mengingat suara ayahnya, tangan ayahnya, dan kata-kata "Ini demi kebaikanmu."

"Mereka bilang begitu..."

"Lalu, apakah kau merasa lebih baik setelahnya?"

Kepala Damar perlahan menggeleng. "Aku malah takut. Dan makin sering lupa."

Ustaz Mahrus mengangguk pelan. "Tahu kenapa? Karena rasa takut jarang membuat kita mengerti. Ia hanya membuat kita bersembunyi."

Hening sejenak. Burung gereja melintas di dahan pohon mangga.

"Apakah Allah juga menghukum seperti itu?" tanya Damar. Kali ini suaranya nyaris berbisik.

Ustaz Mahrus menarik napas panjang. Lalu menjawab dengan suara yang penuh kasih.

"Allah... tidak kehabisan cara, Damar. Ia Maha Lembut. Ia menegur dengan waktu, dengan rasa, kadang dengan kehilangan... tapi bukan untuk menyiksa. Bahkan ketika kita salah, Ia tetap menunggu, tetap mengirim tanda, tetap menyayangi. Tidak ada cambuk dalam cinta-Nya."

Damar menunduk. Ada yang mencair dalam dadanya. Air mata akhirnya jatuh, diam-diam.

"Jadi... hukuman bukan cara terbaik ya, Ustaz?"

"Kadang manusia memilih menghukum karena mereka kehabisan cara. Mereka lelah. Mereka tidak tahu harus bagaimana. Tapi itu bukan berarti mereka paling benar. Dan bukan berarti kamu tidak layak disayangi."

Ustaz Mahrus menyentuh pundak Damar dengan hangat.

"Kau berhak dimengerti. Bahkan ketika kau lupa. Bahkan ketika kau belum bisa sebaik yang mereka harapkan."

Mata Damar kini menatap lurus, jernih.

"Kalau begitu... aku ingin berubah. Tapi bukan karena takut."

"Bagus. Berubahlah karena kau mencintai dirimu, dan karena kau tahu... Allah tak pernah menyerah menunggumu pulang."

Senja makin pekat. Adzan Maghrib berkumandang, menggetarkan udara.

Damar berdiri. Ia merasa tubuhnya ringan. Seolah beban yang selama ini ia panggul telah larut bersama hembusan angin sore. Ia tahu, hidup tidak serta merta berubah. Tapi hatinya telah menemukan arah.

Di langkah kecil menuju masjid, ia bergumam dalam hati:

"Kasih sayang yang sejati tidak menyiksa. Dan Tuhan sejati... tidak pernah kehabisan cara untuk membuat manusia kembali."
WhatsApp Bagikan via WhatsApp
📚 Artikel Terbaru: