Dapatkan Kedalaman Makna Kehidupan
WA 081311649594

Seumur Jagung

Kadang, hidup terasa seperti duduk sejenak di pinggir jalan—sebentar saja, lalu pergi lagi. Kita baru saja menghela napas, tahu-tahu sudah harus mengejar yang berikutnya. Ada banyak hal yang hanya mampir sebentar dalam hidup: tawa yang ringan, cinta yang singkat, atau harapan yang datang lalu menguap. Hidup ini, katanya, hanya *seumur jagung*. Tapi mengapa rasa kehilangan bisa sedalam itu?

Saat kita minum teh panas di sore hari, kita tahu ia tak akan lama hangat. Tapi kita tetap menikmatinya, mencium aromanya, dan sesekali memejamkan mata di tengah hiruk pikuk dunia. Kita tidak marah karena tehnya dingin. Kita tahu dari awal: ia memang sebentar.

Begitu juga dengan banyak hal lain yang kita peluk dalam hidup. Anak kecil yang dulu tidur di pangkuan kita, kini sudah remaja dan jarang bicara. Teman yang dulu selalu hadir kini sibuk dengan kehidupannya sendiri. Bahkan usia kita sendiri berjalan tanpa bisa dihentikan. “Dunia adalah tempat singgah, bukan tempat tinggal.”

Lalu, mengapa kita begitu mudah marah saat kehilangan? Mungkin karena kita lupa bahwa semua ini memang bukan milik kita. Kita hanya dipinjamkan, untuk melihat: apakah kita bersyukur, atau lupa diri.

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan saling berlomba dalam kekayaan dan anak-anak.”

Pernahkah kita bertanya, seumur jagung itu cukup untuk apa? Ternyata, cukup untuk berbuat baik. Cukup untuk meminta maaf. Cukup untuk memberi satu senyuman pada orang tua. Cukup untuk berdoa di subuh yang sunyi.

“Sesungguhnya yang paling beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin.”

Jika semua hanya sementara, maka sempatkanlah mengisi yang sebentar itu dengan yang bermakna. Jangan biarkan usia yang singkat hanya penuh penyesalan dan angan. Bukankah lebih baik singkat tapi bernilai, daripada panjang tapi hampa?

Pada akhirnya, hidup ini tak perlu panjang untuk menjadi indah. Ia hanya perlu hati yang sadar bahwa setiap hari bisa jadi hari terakhir. Maka jadikanlah hari ini, meski hanya *seumur jagung*, sebagai waktu terbaik yang pernah kita punya.
WhatsApp Bagikan via WhatsApp
📚 Artikel Terbaru: