Dapatkan Kedalaman Makna Kehidupan
WA 081311649594

Berdamai dengan Realitas

Saya pernah marah. Bukan kepada siapa-siapa, tapi kepada keadaan. Saat semuanya tidak seperti yang saya rancang. Saat hidup seperti tidak mau kompromi dengan rencana-rencana saya.

Tapi lama-lama saya capek sendiri.

Saya duduk. Diam. Lalu berpikir: “Apa salahnya kalau kali ini saya kalah?” Saya tidak sedang bicara soal bisnis. Atau soal jabatan. Tapi lebih soal hal-hal kecil yang diam-diam membuat hidup ini berat—ekspektasi.

Banyak dari kita hidup bukan untuk hidup. Tapi untuk mewujudkan bayangan ideal tentang bagaimana hidup *seharusnya*. Tentang pekerjaan yang *harusnya* kita dapat. Tentang pasangan yang *harusnya* kita punya. Tentang anak-anak yang *harusnya* seperti itu. Dan kalau tidak sesuai, kita anggap gagal.

Padahal, tidak semua yang kita anggap buruk itu buruk. “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” Dan sebaliknya. Hidup punya logikanya sendiri. Kita sering tidak diajak rapat oleh-Nya.

Saya tidak sedang menyuruh siapa pun pasrah. Saya hanya ingin bilang: berdamai itu bukan kalah. Itu bukan menyerah. Itu istirahat. Itu tahu kapan harus berhenti mengeluh. Itu seperti minum air putih dingin setelah jalan jauh. Tidak menyelesaikan semua hal, tapi cukup untuk membuat kita bisa melanjutkan.

Ada satu lagi: “Ketahuilah, apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu. Dan apa yang meleset darimu, tidak akan menimpamu.” Kalimat itu sederhana. Tapi ketika saya benar-benar memahaminya, saya seperti menemukan ruang kosong di kepala yang bisa diisi ketenangan.

Hari ini, saya masih punya banyak rencana. Tapi saya tidak lagi memaksa hidup untuk menuruti semuanya. Saya berusaha. Saya berdoa. Tapi saya juga siap. Siap jika hasilnya tidak seperti yang saya mau.

Karena ternyata… hidup tidak harus selalu seperti yang kita inginkan, untuk tetap layak dijalani.
WhatsApp Bagikan via WhatsApp
📚 Artikel Terbaru: