Tempat ibadah seharusnya menjadi tempat paling aman. Namun faktanya—di Indonesia—justru sering jadi lokasi kehilangan.
Bukan hanya barang tertinggal. Tapi juga barang dicuri.
Statistik dari beberapa laporan daerah menunjukkan fenomena ini nyata:
Di Masjid Agung Bandung, dalam setahun tercatat lebih dari 100 laporan kehilangan. Di Masjid Istiqlal, Jakarta, jumlah kehilangan dan kecurian sempat melonjak pada bulan Ramadan: 50 laporan dalam sebulan, mulai dari sandal, HP, hingga dompet. Di Makassar, masjid-masjid besar pernah mengadukan gelombang pencurian mukena dan sepatu. Di Surabaya, bahkan pernah ada CCTV masjid yang dicuri.
Ironi. Di rumah Tuhan, manusia kehilangan kejujuran.
Bandingkan dengan Jepang. Di sana, barang hilang di stasiun hampir selalu kembali ke pemiliknya. Di Tokyo, polisi menerima lebih dari 4 juta barang temuan setiap tahun, dan mayoritas kembali ke pemilik. Bahkan dompet berisi uang. HP. Paspor. Semua dikembalikan.
Mengapa?
Karena budaya amanah tertanam kuat.
“Barang siapa menemukan barang hilang, hendaklah ia umumkan.” “Tidak halal harta seorang Muslim tanpa kerelaan hatinya.” “Barangsiapa menjaga hak saudaranya, maka Allah akan menjaga kehormatannya.” “Bukan bagian dari umatku orang yang tidak amanah.”
Masalah kita bukan tidak tahu. Tapi tidak menjadikan tahu sebagai perilaku.
Solusinya bukan hanya pasang CCTV. Tapi membangun kesadaran kolektif.
Mari ajarkan kembali nilai amanah sejak kecil. Remaja masjid bukan hanya untuk kajian, tapi juga jadi penjaga lingkungan. Pasang papan barang hilang di depan pintu masjid. Buat sistem laporan dan pelaporan lewat grup DKM. Jadikan khutbah Jumat sebagai ruang edukasi sosial, bukan hanya spiritual.
Kita tidak sedang bicara tentang kehilangan sandal. Tapi kehilangan budaya jujur.
Karena bangsa yang besar, bukan yang membanggakan teknologi. Tapi yang mengembalikan barang kecil tanpa pengawasan.
Masjid seharusnya jadi tempat menguji kejujuran. Bukan ruang memancing pencurian.
Jika di negeri lain orang bisa temukan dompetnya kembali di taman, kenapa di masjid kita masih khawatir lepas sendal?
Kita bisa berubah. Asal semua mau mulai. Dari hal yang paling kecil: mengembalikan barang yang bukan miliknya.