Sudah lebih dari dua dekade kita hidup di abad ke-21. Tapi dunia belum berhenti berduka.
Data dari Global Peace Index, FAO, dan World Health Organization menyebutkan tiga penyebab terbesar kematian manusia hari ini: perang, kelaparan, dan penyakit.
Sejak 2001, lebih dari 1,2 juta orang meninggal karena perang dan konflik bersenjata. Kita menyaksikan deretan mayat di Gaza, pengungsian di Ukraina, reruntuhan di Suriah, dan genangan darah di Afrika Tengah.
Kelaparan menelan lebih banyak. FAO mencatat, 9 juta jiwa meninggal setiap tahun karena kekurangan pangan. Dalam 24 tahun, artinya sekitar 216 juta jiwa lenyap hanya karena perut kosong.
Tapi angka paling besar datang dari penyakit.
Mari rinci:
COVID-19: 7 juta jiwa HIV/AIDS: ±680 ribu per tahun → 24 tahun = ±16 juta jiwa TBC (Tuberkulosis): ±1,3 juta per tahun → 24 tahun = ±31 juta jiwa Malaria: ±600 ribu per tahun → 24 tahun = ±14 juta jiwa Kanker: ±10 juta per tahun → 24 tahun = ±240 juta jiwa Penyakit Jantung & Stroke: ±17,9 juta per tahun → 24 tahun = ±429 juta jiwa Diabetes dan Komplikasi Metabolik: ±2 juta per tahun → 24 tahun = ±48 juta jiwa Pneumonia & Infeksi Paru: ±2,5 juta per tahun → 24 tahun = ±60 juta jiwa
Total kematian akibat penyakit: ±845 juta jiwa dalam 24 tahun.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Tapi ratapan ibu, tangis anak, sepi rumah-rumah.
Mengapa?
Karena manusia belum sepenuhnya sadar.
Karena kita masih menganggap literasi dan edukasi sebagai tambahan, bukan kebutuhan. Padahal, ilmu adalah pelita kehidupan. Dan kebodohan adalah awal kehancuran.
“Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” “Barangsiapa Allah kehendaki kebaikan padanya, maka akan diberi pemahaman dalam agama.” “Ilmu lebih utama daripada ibadah.” “Ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, dan cahaya dalam kegelapan.” “Barang siapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
Literasi bukan sekadar bisa baca. Tapi bisa baca arah zaman. Bisa pahami risiko. Bisa bertahan hidup.
Kalau kita ingin anak-anak kita hidup lebih lama, jangan wariskan harta—wariskan ilmu.
Kalau ingin dunia lebih damai, jangan bangun senjata—bangun sekolah.
Karena peluru bisa dibungkam dengan dialog. Kelaparan bisa dihapus dengan inovasi pangan. Penyakit bisa dilawan dengan edukasi dan kedisiplinan kesehatan.